Selasa, 01 November 2011

Budaya Politik


Pengertian Budaya Politik
Menurut beberapa sumber pengertian Budaya Politik adalah sebagai berikut :
a.     Gabriel A. Almond dan Sidney Verba : Istilah budaya politik terutama mengacu pada orientasi politik,sikap terhadap sistem politik dan bagian-bagiannya yang lain serta sikap terhadap peranan kita sendiri dalam sistem tersebut.Budaya politik suatu bangsa merupakan distribusi pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik di antara masyarakat bangsa itu.
b.     Key Lawson : Suatu budaya politik yaitu terdapatnya satu perangkat yang meliputi seluruh nilai-nilai politik,yang terdapat di seluruh bangsa.
c.      Sidney Verba : Budaya politik adalah suatu sistem kepercayaan empirik,simbol-simbol ekspresif,dan nilai-nilai yang menegaskan suatu situasi dimana tindakan politik dilakukan.
d.     Alan R. Ball : Budaya politik adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama,sebuah pola orientasi-orientasi terhadap objek-objek politik.
e.     Austin Ranney : Budaya politik adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama,sebuah pola orientasi-orientasi terhadap objek-objek politik.
f.       Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell : Budaya politik berisikan sikap,keyakinan,nilai dan keterampilan yang berlaku bagi seluruh populasi,juga kecenderungan dan pola-pola khusus yang terdapat pada bagian-bagian tertentu dari populasi.

Batasan Konseptual Tentang Budaya Politik

a.     Konsep budaya politik lebih mengedepankan aspek-aspek nonperilaku aktual yang berupa  tindakan,tetapi lebih menekankan kepada berbagai perilaku nonaktual seperti orientasi , sikap, nilai-nilai dan kepercayaan-kepercayaan.
b.    Budaya politik berorientasikan sistem politik ,artinya setiap berbicara budaya politik maka tidak akan lepas dari pembicaraan sistem politik.
c.     Budaya politik merupakan deskripsi konseptual yang menggambarkan komponen-komponen budaya politik dalam tatanan masif (dalam jumlah besar), atau mendeskripsikan masyarakat di suatu negra atau wilayah, bukan per-individu.Hal ini berkaitan dengan pemahaman bahwa budaya politik merupakan refleksi perilaku warga negara secra massal,yang memiliki peran besar bagi terciptanya sistem politik yang ideal.


Komponen-komponen Budaya Politik

Menurut Almond dan Verba, budaya politik mengandung beberapa komponen orientasi yang mengacu pada aspek-aspek dan objek yang dibakukan dalm sistem politik.

a.     Orientasi Kognitif
Pengetahuan tentang politik dan kepercayaan pada politik,peranan dan segala kewjibannya serta input dan outputnya.
b.     Orientasi Afektif
Orintasi piltik yang di dalamnya berisikan perasaan-perasaan dan emosi-emosi tentang objek-objek politik atau sistem politik.Isinya bisa mengenai peranan-peranan yang di lakukan oleh struktur politik, aktor-aktor (pelaku politik), dan apa yang dilakukan dalam penampilan mereka dalam praktik politik.
c.      Orientasi Evaluatif
Tipe orientasi ini merupakan tingkatan tertinggi dalam level orientasi politik.Ada pemahaman yang lebih tinggi tentang sistem politik.Seseorang mampu membuat keputusan dan pendapat tentang objek-objek politik yang didasarkan pada kombinasi standar nilai dan kriteria yang didasarkan pada informasi yang didapat, dan perasaan tentang hal-hal tersebut. 


Budaya Politik Meliputi :

a.     Barbagai aktivitas, isu maupun keputusan yang diterima oleh rakyat sebagai sesuatu yang relevan dengan pengaturan kekuasaan politik.
b.     Kearifan/pengetahuan masyarakat untuk saling memahami berbagai tingkah laku yang relevan secara politik.
c.      Nilai-nilai yang dianggap sangat penting dalam kegiatan-kegiatan politik.
d.     Standar penilaian yang diterima secara valid untuk menilai dan mengevaluasi tingkah laku politik.
e.     Identitas individual maupun kolektif.

Struktur dan Konfigurasi Budaya Politik

a.     Tidak ada satupun masyarakat yang mempunyai bentuk budaya politik yang tunggal/seragam.
b.     Terdapat perbedaan yang fundamental antara budaya penguasa (power holder) dengan rakyat/massa.
c.      Budaya politik terbagi dalam budaya politik elite dan budaya politik massa yang keduanya eksis dalam semua sistem politik.





Permasalahan/Tema Budaya Politik

Menurut Pye,budaya politik meliputi permasalahan :
Ø Trust, distrust, dan suspicion (kepercayaan, ketidakpercayaan dan kecurigaan).
Budaya politik mampu menggambarkan mana orang yang baik (teman) dan mana yang menjadi musuh.
Ø Hierarki dan Equality
Budaya politik mampu menjelaskan mengenai sikap-sikap terhadap kekuasaan terutama menyangkut hubungan pemimpin denga pengikutnya.
Ø Kebebasan dan Paksaan
Nilai kebebasan berhubungan dengan budaya politik yang demokratis, sementara penerapan paksaan/kekerasan akan dimanfaatkan untuk pembentukan kekuatan nasional.
Ø Loyalitas dan Komitmen
Budaya politik yang berbeda bisa menyebabkan loyalitas dan komitmen yang berbeda terhadap penguasa.

Selain permasalahan tersebut budaya politik juga menjelaskan :

a.     Lingkup dan fungsi politik
Dalam budaya politik demokratis kekuasaan bersifat relatif dalam pembuatan kebijaksanaan karena kuatnya kontrol sosiala dan tingginya partisipasi masyarakat.
b.     Konsep kekuasaan dan otoritas
Budaya politik menyangkut asal dan sifat dari kekuasaan dan otoritas.
c.      Integrasi politik
Budaya politik mampu memberikan kepada rakyat perasaan identitas nasional dan perasaan memilki pada sistem-sistem politik tertentu.

d.     Status politik dan politisi
Budaya politik modern cenderung ada pembagian kerja dan kecenderungan bersifat sekuler serta menganggap politik hanya salah satu profesi.
e.     Evaluasi performance
Budaya politik mempunyai standar evaluasi terhadap efektivitas dan kompetisi pembuatan peraturan.
f.       Dimensi afektif dari politik
Diwujudkan dengan bagaimana orang dapat berpartisipasi dalam politik secara sah.
g.     Keseimbangan antara kerjasama dan kompetisi
Budaya politik harus mampu menyeimbangkan antara kerjasama dan kompetisi dalam kehidupan politik.


TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK YANG BERKEMBANG DI INDONESIA

Macam-macam Tipologi Budaya Politik

Gabriel A. Almond dan Sidney Verba,membagi budaya politik menjadi tiga yaitu budaya politik partisipan,budaya politik subjek dan budaya politik parokial.Pembagian ini didasarkan pada :
Ø Dampak pemerintah terhadap kehidupan warga negara
Ø Kewajiban-kewajiban warga negara terhadap pemerintah
Ø Apa yang diharapkan warga negara  dari pemerintah

a.     Budaya Politik Parokial
v Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai objek umum, objek-objek input, objek-ojek output dan pribadi sebagai partisipasi aktif mendekati nol.
v Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat.
v Orientasi parokial menyatakan alpanya harapan-harapan akan perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh sistem politik.
v Parokialisme murni barlangsung dalam sistem tradisional yang lebih sederhana dimana spesialisasi politik barada pada jenjang sangat minim.
v Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif.
b.     Budaya Politik Subjek
v Terdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem itu, tetapi frekuensi orientasi terhadap objek-onjek input secara khusus dan terhadap pribadi sebagai partisipasi mendekati nol.
v Para subjek menyadari akan otoritas pemerintah.
v Hubungannya terhadap sistem politik secara umum dan terhadap output, administratif secara esensial merupakan hubungan yang pasif.
v Tidak terdapat struktur input yang terdiferensiasikan.
v Orientasi subjek lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif.
c.      Budaya Politik Partisipan
v Frekuensi orientasi politik sistem sebagai objek umum, objek-objek input, output dan pribadi sebagai partisipasi aktif mendekati satu.
v Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem politik secara komprehensif dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif (aspek input dan output sistem politik).
v Anggota masyarakat partisipatif terhadap objek politik.
v Masyarakat berperan sebagai aktivis.


Perkembangan Tipe Budaya Politik Sejalan Perkembangan Sistem Politik Yang Berlaku
a.     Budaya Politik Parokial
Budaya politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling rendah, yang di dalamnya masyarakat bahkan tidak merasakan bahwa mereka adalah warag negara dari suatu negara, mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada parasaan lokalitas.Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik negara dan memiliki harapan yang kecil terhadap sistem politik tersebut.Mereka tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik.Pengetahuan tentang sistem politik rendah dan jarang membicarakan politik.Masyarakat tidak memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik.Perasaan kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul,ketika berhadapan dengan institusi-institusi politik.
Dalam budaya politik parokial sulit untuk mencoba membangun demokrasi.Membangun demokrasi hanya bisa bila terdapat institusi-institusi dan perasaan kewarganegaraan baru.Budaya politik ini bisa ditentukan dalam masyarakat suku-suku di negara-negara belum maju seperti di Afrika,Asia dan Amerika Latin.

b.     Budaya Politik Subjek

Budaya politik subyek lebih tinggi satu derajat dari budaya politik parokial. Masyarakat memiliki pemahaman sebagai warganegara dan memiliki perhatian terhadap sitem politik, tetapi ketertiban mereka cenderung pasif. Mereka mengikuti berita” politik,tetapi tidak bangga dengan sistem politik negaranya dan perasaan komitmen terhadap negaranya kecil. Mereka merasa tidak nyaman bila membicarakan masalah politik.
Dalam masyarakat dengan budaya subyek, demokrasi sulit berkembang karena masing” warga negara tidak aktif.perasaan berpengaruh terhadap proses politik muncul bila mereka telah melakukan kontak dengan pejabat lokal. Mereka memiliki kompetensi politik dan keberdayaan politik yang rendah, sehingga sangat sukar mengharapkan partisipasi politik yang tinggi,agar tercipta mekanisme kontrol terhadap berjalannya sistem politik.

c.      Budaya Politik Partisipasi

Masyarakat mengerti bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sisitem politik. Mereka memiliki kebangaan terhadap sistem politik dan memiliki kemauan untuk mendiskusi hal tersebut. Mereka yakin dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam bebrapa tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri dalam kelompok” protes bila terdapat praktik” pemerintehan yang tidak fair.
Budaya ini memungkinkan berkembangan demokrasi dengan baik karena terjadi hormonisasi hubungan warga negara dengan pemerintah, yang ditunjukkan oleh tingkat kompetensi politiuk yaitu menyelesaikan suatu hal secara politik dan tingkat efficacy/keberdayaan karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan politik yang ditunjukkan oleh warga negara. Mereka merasa perlu terlibat dalam pemilu dan mempercayai perlunya terlibat dalam politik.
Warga negara berperan sebagai individu yang aktif dalam masyarakat secara sukarela, karena adanya saling percaya antar warga negara. Namun kenyataan tidak ada satu pun negara yang memiliki budaya politik ,murni partisipan, parokial atau subyek melainkan terdapat variasi campuran diantara ketiga tipe” tersebut.  Ketiganya menurut almond dan verba tervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik:
Ø Budaya politik subyek-parokial (the parocial-subyek culture)
Ø Budaya politik subyek-partisipan(the subyek-partisipan culture)
Ø Budaya politik nparokial(the parokial-partisipan)




Budaya Politik di Indonesia

Menurut Rusadi Kantaprawira  (1999 : 37-39), budaya politik di Indonesia dewasa ini dapat di telaah melalui variabel-variabel berikut :
a.     Konfigurasi subkultur yang beraneka ragam, yang akhir-akhir ini menimbulkan konflik baik secara vertikal maupun horisontal.Konflik yang muncul antara lain konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka, konflik antara suku di Sampit, konflik antara agama di Maluku dan bentrok pemekaran di Papua.
b.     Budaya politik Indonesia yang bersifat parokial di satu pihak dan budaya politik partisipan di pihak lain.Masih banyak warga negara Indonesia yang ketinggalan dalam menggunakan hak dan dalam memikul tanggung jawab politiknya yang mungkin di sebabkan oleh isolasi dari budaya luar, pengaruh penjajahan,feodalisme,bapakisme dan ikatan primordal. Pada sisi lain,sebagai warga negara Indonesia sangat aktif dalam kehidupan politik yang tercermin dalam kegiatan elite politik.
c.      Sifat ikatan primordal yang masih kuat berakar,yang berupa sentimen kedaerahan,kesukuan dan keagamaan. Otonomi daerah dewasa ini membawa dampak antara lain pada penguatan kepemimipinan daerah dan pengutamaan putra daerah. Kehidupan partai politik mrngandalkan kekuatan umat,bukan perebutan massa melalui program yang di tawarkan.
d.     Kecenderungan budaya politik Indonesia yang masih mengakui sikap peternalisme dan sifat patrimonial, misalnya pola bapakisme,asal bapak senang.
e.     Dilema interaksi tantang introduksi modernisasi dengan tradisi dalam masyarakat. Masyarakat kurang menerima pemikiran rasionalitas dalam kehidupan politik,tapi nampak mulai terbuka pemikiran baru dalam berpolitik.


PENTINGNYA SOSIALISASI PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK

1.Makna Solialisasi Kesadaran Politik.
*    Pengertian budaya politik

Ali syariah dan ustman Abdul Mu’iz ruslan mengemukakan bahwa, kesadaran politik sebagai kondisi dimana individu memiliki pandangan idiologi yang kritis, rasa keterikatan dengan masyarakat tertentu dan mengenal komunikasi tersebat; individu yang memiliki rasa tanggung jawab, diformat karakternya oleh perasaan molektif dan partisipasif dalam perjalanan dan pekerjaannya. dengan kesadaran itu individu benar-benar mengerti dan mampu menangkap situasi dan kondisi zaman.
Menurut Paulo Ferayeri kesadaran politik adalah pengetahuan yang kritis,pandangan yang benar terhadap dunia dimana manusia hidup, kemudian berusaha mengubahnya.
*    Faktor-Faktor yang mempengaruhi kesadaran politik

Jenis budaya politik dimana individu tumbuh
Lucian W Pye dan Sidney Verba menyebutkan ada tiga tipe budaya politik yang mempengaruhi kesadaran politik seseorang.
§  Tipe partisipasif: orientasi warga terhadap politik bersifat aktif.
§  Tipe pengikut: waraga hanya terpengaruh oleh sistem politik.
§  Tipe terbatas : individu tidak mendapati bentuk hubungan apapun dengan dunia politik.
Berbagai revolusi dan perubahan budaya yang terjadi dalam masyarakat
Tingkat pendidikan serta kemampuan dan kecakapan khusus yang dimiliki individu.
Adanya pemimpin politik atau sejumlah tokoh politik yang jenius.
*    Mewujudkan kesadaran politik

Kesadaran politik di capai melalui arahan politik secara langsung atau tidak langsung, pengalaman politik yang di dapat melalui partisipasi politik,belajar secara mandiri, dialog-dialog kritis, apprenticesship (mangang) dan generasi (penyamatan).

*    Pentingnya kesadaran politik

Kesadaran politik berkaitan dengan partisipasi politik. Menurut Ramlan Suurbakti, tinggi rendahnya partisipasi politik ditentukan oleh kesadaran politik dan kepercayaan pada pemerintah (sistem politik). Kesadaran politik disini adalah kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, yang berhubungan dengan pengetahuan seseorang tantang lingkungan masyarakat dan politik,dan menyangkut minat atau perhatian terhadap lingkungan masyarakat dan politik. Kepercayaan terhadap pemerintah adalah penilai seseorang terhadap pemerintah; apakah pemerintah dapat dipercaya/dipengaruhi atau sebaliknya.
Berdasarkan tinggi rendahnya kedua faktor tersebut, Jeffry M Paige membagi jenis partisipasi menjadi empat tipe:
§  Kecenderungan partisipasi politik tinggi, dipunyai seseorang yang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan terhadap pemerintah tinggi.
§  Kecenderungan partisipasi pasif-tertekan (apatis), mereka yang kesadaran politik dan kepercayaan terhadap perintah rendah.
§  Kecenderungan bersikap militan radikal, mereka yang memiliki kesadaran politik tinggi tetapi kepercayaan terhadap pemerintah rendah.
§  Kecenderungan pasif (tidak aktif), mereka yang memiliki kesadaran politik sangat rendah tetapi kepercayaan terhadap pemerintah sangat tinggi



2.Mekanisme  Sosialisasi Budaya Politik
Sosialisasi budaya politik dapat dilakukan dengan komunikasi politik.
Komunikasi politik diarahkan untuk mencapai dukungan legitimasi yang meliputi pengetahuan,sikap sampai dengan perilaku politik. Komunikasi politik mencakup juga kegiatan untuk mencari, mempertahankan dan meningkatkan dukungan politik. Bentuk-bentuk komunikasi politik antara lain:
a.    Retorika politik (pidato politik)

Pada awalnya retorika adalah komunikasi yang bersifat dua arah atau dialogis untuk saling mempengaruhi dengan cara persuasif dan timbal balik.
Saat ini, retorika berkembang  menjadi kegiatan komunikasi massa melalui pedato ke banyak orang. Dalam hal ini retorika bergeser menjadi pernyataan umum, terbuka dan aktual dengan menjadikan publik/massa menjadi sasaran.
Macam-macam Retorika:
1.     Retorika persuasif dan retorika dialektif
v Retorika persuasif
Adalah retorika yang bertujuan mempengaruhi massa untuk mengikuti kehendak yang berbicara. Retorika politik ini memiliki daya persuasi yang sangat tinggi, dengan menggunakan bahasa lisan yang indah (irama,mimik,intonasi,suara)
v Retorika dialektif
Adalah retorika untuk mempengaruhi jiwa manusia secara positif ke arah kebenaran. Orator dalam berbicara harus berpedoman pada dasar-dasar yang di dalamnya terdapat kebenaran dan kebijakkan.





2.     Retorika diliberitif, retorika forensif dan retorika demonstratif
v Retorika deliberitif
Retorika yang dirancang untuk mempengaruhi sikap khalayak terhadap kebijakan pemerintah.
v Retorika forensik
Retorika yang berkaitan dengan pengadilan, dengan fokus pembicaraan keputusan pengadilan di masa lalu.
v Retorika demonstratif
Retorika yang mengembangkan wacana yang dapat memuji atau menghujat.

b.    Agitasi politik

Agitasi politik adalah suatu upaya untuk menggerakkan massa dengan lisan atau tulisan, dengan cara merangsang dan membangkitkan emosi khlalayak.
Agitasi di mulai dengan cara membuat kontradiksi dalam masyarakat dan menggerakkan khlayak untuk menentang kenyataan hidup yang di alami selama ini (penuh ketidakpastian dan pebderitaan), dengan tujuan menumbulkan kegelisaan dikalangan massa. Kemudian rakyat digerakkan untuk mendukung gagasan baru atau idiologi baru dengan menciptakan keadaan baru.
c.     Propaganda politik

Kegiatan untuk mencari pengikut dalam jumlah banyak. Propagandis adalah politikus atau kader partai politik yang memiliki kemampuan dalam melakukan sugesti kepada khalayak dan menciptkan suasana yang mudah terkena sugesti.




Jakques Ellul membagi propaganda dalam dua tipe:
1.     Propaganda politik: kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, partai politik dan kelompok kepentingan untuk mencapai tujuan politik (strategis atau taktis) dengan pesan-pesan yang khas yang lebih berjangka pendek.
2.     Propaganda sosisologis. Biasanya kurang kentara dan lebih berjangka panjang dengan pesan-pesan suatu cara hidup yang selanjutnya akan mempengaruhi lembaga-lembaga social ,ekonomi dan politik.

Propaganda politik dapat merupakan kegiatan komunikasi politik yang dilakukan secara terencana dan sistematis, menggunakan sugesti (mempermainkan emosi) untuk tujuan mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang,khalayak atau komunitas yang lebih besar (bangsa) agar melaksanakan atau menganut suatu ide (idiologi, gagsan sampai sikap) atau kegiatan tertentu dengan kesadaran sendiri tampa merasa dipaksa.

Teknik-teknik propaganda antara lain:
1.     Penjulukan (name calling): memberi nama jelek pada pihak lain.
2.     Iming-iming (glittering generalities): menggunakan  kata-kata yang muluk, slogan-slogan dan memutarbalikkan fakta.
3.     Transfer: melakukan identifikasi dengan lambang-lambang otoritas.
4.     Testimonial: pengulangan ucapatan orang yang dihormati atau yang dibenci untuk mempromosikan atau meremehkan suatu pihak.
5.     Merakyat(plain foks) yaitu menempatkan diri sebagai bagian dari rakyat.
6.     Menumpuk harta(card stacking) yaitu memilih dengan teliti pernyataan yang akurat dan logis.
7.     Gerobak music (band wagon) yaitu mendorong khalayak untuk bersama-sama orang banyak bergerak untuk mencapai tujuan atau kemenangan yang pasti.

d. Public Relation Politik

Public Relation Politik merupakan bentuk kegiatan dalam melakukan hubungan dengan
Masyarakat secara jujur,terbuka,rasional (tidak emosional) dan timbal balik.Tujuannya agar terjalin hubungan yang hormonis antara pemerintah dengan masyarakat yang dimulai dengan menciptakan rasa memiliki(sense of belonging) bagi masyarakat.Dengan demikian citra pemerintah di masyarakat baik dan masyarakat memberikan dukungan yang positif terhadap pemerintah.
Public relation politik menunjukkan ciri demokrasi yang memberikan penghargaan kepada masyarakat.Masyarakat dipandang sebagai objek dan subjek.Maksudnya di samping memberikan penerangan-penerangan kepada public juga memperhatikan dan meneliti sikap-sikap dan pendapat public.

e. Kampanye Politik

Kampanye politik adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik rakyat.

f. Lobi politik

Lobi politik merupakan forum komunikasi politik yang bersifat informal,sifatnya dialogis, tatap muka dan antarpersonal.Biasanya dilakukan untuk mencari konsensus/ kompromi.

g. Pola Tindakan Politik

Tindakan politik bertujuan untuk membentuk citra(image) politik dimana khalayak (masyarakat), dalam bentuk gambaran tentang realitas politik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar